Bottom ImageBottom ImageBottom ImageBottom Image

Penggunaan Lahan yang Tidak Sesuai di Wilayah Rawa Gambut Tripa Pesisir Pantai Barat Aceh

Denis Ruysschaert (1, Ian Singleton (2, and Susilo Sudarman (3
(1,2 PanEco Foundation,
Chileweg-5, Berg am Irchel, CH-8415, Switzerland.
3) Yayasan Ekosistem Lestari,
Jl. K.H. Wahid Hasyim No 51/74, Medan 20154, Indonesia.

Kerusakan Hutan Rawa Gambut TripaTiga wilayah rawa gambut di pesisir pantai barat Aceh yang masih ada (Tripa, Kluet dan Trumon-Singkil) terkena dampak tsunami pada tahun 2004 dan gempa Nias, namun wilayah ini berfungsi sebagai buffer zone yang efekstif pada saat itu dengan melindungi masyarakat sekitar dan sebagai lokasi mata pencaharian penduduk.

Namun di Tripa, konversi lahan menjadi perkebunan sawit memiliki konsekuensi buruk bagi proses rekonstruksi Aceh dan kesiagaan masyarakat terhadap tsunami di masa depan. Tulisan ini akan membahas nilai dari ekosistem yang khas ini, dan dampak dari konversi perkebunan sawit terhadap masyarakat lokal, perubahan iklim dan keanekaragaman hayati.

 

Mengingat dampak jangka panjang dari konversi lahan gambut ke perkebunan kelapa sawit yang bersifat perkebunan mono-kultur, tulisan ini memaparkan bukti-bukti penting yang menegaskan bahwa konversi perkebunan sawit saat ini merupakan tindakan yang sangat tidak bijaksana. Hal tersebut mengancam mata pencaharian penduduk setempat, berkontribusi kepada perubahan iklim, dan membuat biotop-biotop khas terancam punah. Di saat yang sama, hanya sedikit atau bahkan tidak ada perkembangan jangka panjang terhadap pencaharian penduduk di lokasi tersebut. Tulisan ini menyimpulkan bahwa konversi hutan gambut pesisir saat ini menjadi areal perkebunan kelapa sawit akan merusak proses rekonstruksi secara keseluruhan, dengan penghancuran buffer zone yang sangat berharga dan tak tergantikan, dan dengan mengurangi resiliensi masyarakat setempat dalam menanggulangi bencana tak terduga, seperti halnya Tsunami.