Bottom ImageBottom ImageBottom ImageBottom Image

Banyak Tapal Batas di Kawasan Rawa Singkil Sudah Tidak Akurat

Many Bolder Blocks in Singkil Swamp Are No Longer Accurate

Kawasan rawa singkil merupakan bagian penting dari Kawasan Ekosistem Leuser. Ianya merupakan kawasan dengan nilai ekologis sangat tinggi, terutama sebagai habitat orangutan sumatra dengan tingkat kepadatan populasi tertinggi didunia. Rawa singkil juga menyokong populasi ular phyton, buaya, dan kura-kura besar dalam jumlah yang layak. Harimau Sumatra juga mendiami kawasan tersebut pada musim kering dan memangsa beberapa jenis rusa dan babi hutan yang tinggal di kawasan tersebut. Kawasan rawa singkil juga menyimpan karbon dalam jumlah besar yang terkandung dalam lapisan gambutnya. Ditambah lagi dengan perannya dalam menyokong industri perikanan pesisir, menjadikan rawa singkil sebagai kawasan penting untuk mendukung perekonomian masyarakat sekitar yang rata-rata bergantung pada industri perikanan. Sebagai bagian dari Kawasan Ekosistem Leuser, Rawa singkil secara otomatis menjadi bagian dari Kawasan Strategis Nasional yang  dilindungi dalam Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 2008, perbatasan rawa singkil ditetapkan tahun 2000 dan legalitasnya diatur oleh Keputusan Menteri Kehutanan no. 190 tahun 2001.

Berdasarkan KepMenHut no.190/2001, kawasan Rawa Singkil meliputi area sebesar lebih dari 100,000 hektar. Ianya merupakan kawasan yang berperan penting untuk melindungi pesisir dari bencana alam seperti tsunami, sambil terus menyediakan jasa lingkungan dalam bentuk simpanan air, dan nursery alami untuk perikanan komersil. Jasa ini dinikmati secara langsung dan menyumbang untuk kelanjutan hidup komunitas masyarakat tinggal di sekitar kawasan.

Sayangnya, meskipun kawasan ini merupakan kawasan penting secara ekologis dan ekonomi, Rawa singkil masih terus menghadapi bahaya kehancuran yang terjadi melalui pencurian kayu illegal, kebun sawit yang semakin luas dan merambah lahan, dan pembangunan jalan (yang akan berujung pada semakin mudahnya akses untuk perambah liar, dan mendorong terbentuknya kawasan permukiman ilegal).

Dalam rangka melindungi kawasan ini dan menghindari konflik yang tidak perlu, adalah penting untuk memberi batasan-batasan jelas di lapangan - sebenarnya, ini adalah hal yang terus diingatkan dan dianjurkan oleh pemerintah kabupaten. Untuk alasan inilah BPKEL melakukan survey selama 8 hari untuk memeriksa keberadaan tapal batas kawasan lindung Rawa Singkil. Kunjungan lapangan membawa hasil yang berarti; banyak tapal batas kini berada dibawah permukaan laut dikarenakan abrasi pantai, dan banyak yang lain berada dalam kondisi yang memprihatinkan. (lihat gambar)

Menyadari pentingnya keberadaan tapal batas yang jelas, BPKEL kini merencanakan untuk merekonstruksi ulang tapal batas di Kawasan Rawa Singkil, sebuah tantangan tersendiri dikarenakan karakteristik kawasan rawa dan garis pantai yang tidak stabil, namun sangat penting untuk melindungi habitat unik yang menjadi bagian dari Kawasan Ekosistem Leuser ini.