Bottom ImageBottom ImageBottom ImageBottom Image

Upaya Indonesia Untuk Membasmi Perkebunan Kelapa Sawit Ilegal

Indonesia Attempts to Uproot Illegal Palm Oil Plantations

Aceh. Selama beberapa dekade, deru gergaji di taman nasional hanya berarti satu hal : penebang liar mencabik-cabik hutan hujan.

Sekarang, suara gergaji merupakan bagian dari perlawanan; conservationist memotong tanaman sawit ilegal keluar dari rantai pasokan internasional dan memperlambat laju deforestasi yang menyebabkan Indonesia bertanggung jawab sebagai salah satu emitter karbon terbesar di dunia. Praktek perluasan kebun dengan menebang habis hutan menghancurkan beberapa hutan hujan tropis yang sangat penting secara ekologis, hutan-hutan yang terdiri dari tumbuhan -tumbuhan langka dan hewan-hewan dilindungi yang tidak ditemukan di tempat lain.

Dalam aksi simbolis pertama yg terjadi di negara ini, gergaji menghunus batang-batang kelapa sawit, dipimpin oleh Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL) bersama-sama dengan LSM lokal dan tim polisi menyapu puluhan ribu hektar sawit ilegal dari 2,5 juta hektar Ekosistem Leuser

"Para spekulan perkebunan, pengembang, atau nama apapun yang anda gunakan untuk menyebut mereka, telah menginvasi lebih jauh ke dalam hutan-hutan yang seharusnya dilindungi". kata Mike Griffiths dari BPKEL, badan yang didirikan oleh Gubernur Aceh Irwandi Yusuf pada tahun 2006 untuk melestarikan dan melindungi Leuser. "Mereka melakukannya dengan fait accompli .... Masuk, potong pohon dan tanaman-tanaman lain, dan tiba-tiba masyarakat lokal akan berfikir bahwa kawasan tersebut milik mereka."

Menanam tanaman yang banyak digunakan dalam produk industry yang umum dipakai (seperti bahan untuk coklat, cemilan, dan sabun-sabunan) dalam hutan lindung mungkin terlihat seperti hal yang mudah dilakukan namun mengandung resiko tinggi.

Tapi dengan banyaknya jumlah lahan yang sudah dialokasikan, penegakan hukum yang lemah, banyaknya tenaga kerja yang belum dimanfaatkan, besarnya jumlah penduduk desa yang tinggal di di area terpencil dalam hutan, serta tingginya harga minyak mentah sawit saat ini menyebabkan konversi ilegal hutan hujan tampak masuk akal bagi banyak orang.

Satu tahun setelah Indonesia menyusul Malaysia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, ratusan perkebunan ilegal diperkirakan mengorbankan kawasan lindung.

Sebuah laporan PBB 2007 menunjukkan konversi hutan untuk perkebunan kelapa sawit sebagai penyebab utama deforestasi, kelapa sawit illegal, perambahan liar, dan penebangan pohon liar untuk kepimilikan tanah dan pembakaran hutan terjadi di dalam 37 dari 41 taman nasional.

Leuser, hamparan hutan hujan terbesar di Sumatera, dan salah satu tempat perlindungan terakhir bagi harimau Sumatera kini terancam punah. Gajah, Orangutan, dan Badak seringkali terkena dampak terburuk.

Badan-badan industri, seperti Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), bersikeras semua perkebunan mengikuti peraturan pemerintah, dan bahwa siapapun yg ditemukan bermain curang telah menjadi target penertiban.

"Kami mendukung penertiban perkebunan ilegal - jika mereka tidak mengikuti semua peraturan," kata Fadhil Hasan, Direktur Eksekutif Gapki.

Sengatan gergaji Leuser telah menggusur 11 perkebunan ilegal yang mencakup luas wilayah 12.000 hektar, hanya sebagian kecil dari setidaknya 50 perkebunan ilegal lainnya diperkirakan berada di lapangan.

LSM di Aceh mengatakan korupsi meminyaki roda sistem konsesi perkebunan. Pejabat diduga mengantongi ratusan juta rupiah uang saku untuk mengeluarkan "rekomendasi" tidak mengikat untuk perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki izin resmi. Penegakkan hukum sebenarnya menetapkan 10 tahun penjara dan denda $ 500.000 untuk penanaman di taman nasional.

Pejabat kehutanan di daerah tersebut mengatakan masalah terbesar adalah ketidak tahuan, bukan korupsi.

Peta-peta, klaim kepemilikan dan otoritas yang tumpang tindih antara Bupati, Penduduk Setempat, Perusahaan dan Pejabat Pemerintah sering menyebabkan kebingungan. Seringkali pengambil keputusan tidak menyadari batas-batas kawasan lindung, bahkan untuk kawasan yang terdaftar dalam UNESCO World Heritage Site seperti Leuser

"Batas-batas tidak sesuai kenyataan di lapangan," kata Syahyahri, kepala Departemen Kehutanan Aceh Tamiang. "Kami sekarang mengumpulkan data batas."

Regenerasi hutan Leuser bertujuan untuk merestorasi koridor satwa antara dua populasi gajah yang sebelumnya terpisah oleh lautan sawit ilegal selama beberapa dekade terakhir, kata Rudi H Putra, Manajer Konservasi BPKEL

Namun tanaman dengan nilai jual tinggi tetap akan mengancam usaha-usaha konservasi.

Gapki menyangkal keberadaan kegiatan ilegal, yang tidak hanya membahayakan reputasi industri, tetapi juga melepaskan miliaran ton karbon ke atmosfer.

Walau perusahaan perusahaan yang beroperasi dan tertangkap di Leuser seringkali merupakan perusahaan domestik, ketidaktahuan dan ilegalitas tetap merembes ke atas ke rantai pasokan global.

Dicampur bersama-sama di pabrik dan dikirim ke luar negeri, minyak kepala sawit legal dan ilegal bercampur ke dalam berbagai produk seperti cokelat, shampo, sabun dan biofuel, mengekspos para pengguna di banyak negara terhadap resiko berpartisipasi dalam kehancuran hutan.

Sementara tingginya harga minyak dan pemisahan produk dengan menggunakan sertifikat tidak berarti jaminan ketiadaan bahan baku ilegal, kekhawatiran atas masalah-masalah pemerintahan dan dampak lingkungan tanaman itu sudah memukul keuntungan.

Pada akhir Agustus,Bank Dunia membiayai perusahaan multinasional International Finance Corporation, yang memiliki investasi senilai $ 132.000.000 dalam proyek-proyek minyak kelapa sawit untuk menghentikan semua investasi terkait kelapa sawit, mengingat keluhan tentang lisensi perkenbunan yang meragukan, konflik kepemilikan tanah dengan warga dan kegiatan perambahan liar yang semakin marak.

Pada bulan yang sama, Cadbury Selandia Baru juga menarik minyak kelapa sawit dari semua produk coklat susu mereka menyusul protes konsumen atas peran tanaman tersebut dalam proses kehancuran hutan hujan di Indonesia dan Malaysia.

Kembali di Aceh, BPKEL dan polisi berharap tindakan ini akan ditiru di daerah lain.

Penebangan sawit ilegal akan baik menyelamatkan hutan dan menjaga keamanan industri tersebut dalam jangka panjang dengan menghilangkan "koboi sawit" kata Hariyanta, kepala polisi kabupaten Aceh Tamiang.

"Orang-orang setempat hanya mendapatkan makanan harian dari kerja kerasnya di perkebunan ilegal, tetapi perusahaan mendapatkan uang yang begitu banyak," kata Hariyanta. "Itu sebabnya kami menargetkan perusahaan."

Sumber: Reuters