Perpaduan yang tak tampak antara Islam moderat dan tradisi mistis di Aceh telah melindungi hutan di Aceh dari pengaruh manusia dan kepunahan satwa di dalamnya pada satu abad terakhir. Selama waktu yang sama wilayah Sumatra lain telah kehilangan sekitar 80 persen hutannya.
Di periode 1980-an, sebagian besar rakyat Aceh tidak akan melakukan penebangan pohon besar tanpa terlebih dahulu melakukan suatu upacara mistis. Pembukaan hutan di Aceh untuk konsesi telah menghilangkan hal tabu dari masyarakat tradisional dan telah mengurangi semangat perlindungan hutan di masyarakat yang tinggal dekat hutan. Masyarakat akhirnya ikut bergabung dalam penebangan kayu itu sendiri dan selama masa ini, mereka meninggalkan tanah pertanian dan sawah-sawah mereka dan memandang rendah pada orang-orang yang masih melakukan cara-cara tradisional.
Hal ini mengancam struktur tradisional masyarakat lokal. Kemunculan penebangan liar telah membuat kontrol seni, kerajinan, keterampilan bangunan tradisional dan norma-norma adat menurun tajam.
Produk pertama yang dieksploitasi dari Ekosistem Leuser adalah cula badak. Pemburu memasuki kawasan Ekosistem Leuser hingga tempat terdalam dari ekosistem tersebut untuk menangkap Badak Sumatera. Saat ini populasi hewan ini dianggap kurang dari seratus ekor dari populasi awalnya yang mencapai ribuan ekor.
Pada awal tahun 1980, praktek memancing ikan yang destruktif diperkenalkan. Sungai diracuni dengan pestisida untuk mendapatkan ikan - yang awalnya sangat banyak di Leuser - dengan mudah. Hal ini mengakibatkan kerusakan ekosistem sungai yang serius di daerah tersebut dan telah membahayakan kemungkinan regenerasi.
Pada tahun 1987 hutan di dalam Ekosistem Leuser dibuka untuk penebangan komersial. Jalan-jalan yang dibangun untuk memungkinkan akses untuk sumber daya lain seperti rotan, damar, dan satwa liar. Muncul gelombang ekstraksi komoditas tersebut secara tidak berkelanjutan yang mengarah kepada kepunahan spesies rotan yang paling penting Calamus manna dan kepunahan Siamang. Akses yang mudah terhadap produk hutan yang disebut diatas dan aktifitas penebangan (termasuk penebangan liar) mengakibatkan hutan terdegradasi yang akhirnya sering dikonversi menjadi lahan pertanian - baik untuk perkebunan kelapa sawit dan perkebunan karet.
Bentuk-bentuk eksploitasi ini tidak dapat berlangsung secara berkelanjutan di Leuser. Sebagian besar dataran rendah telah terdegradasi karena penebangan kayu. Penangkapan ikan sungai yang mudah telah mustahil dilakukan dan kemampuan Ekosistem Leuser untuk memberikan dukungan ekologis dalam pembangunan yang berkelanjutan telah terancam.
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|