Bottom ImageBottom ImageBottom ImageBottom Image

Amanah Wali Nanggroe

"Peuseulamat uteun Aceh, sabab uteuen njan nakeuh salah saboh pusaka keuneubah endatu njang akan tapulang keu aneuk tjutjo geutanjoe di masa ukeu."


Dr. Tgk. Hasan Muhammad di Tiro (85), telah pergi dalam kedamaian. Tokoh kharismatik sang deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini, meninggal dunia pada Kamis (03/06/2010), setelah dirawat intensif selama 12 hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh.

Sebagai tokoh yang telah puluhan tahun mengobarkan semangat pembebasan dan punya ribuan pengikut setia, tentunya banyak kenangan yang tersisa seputar dirinya. Seperti diberitakan media, kenangan seputar kehidupan pria yang dikenal dengan sebutan Wali ini, juga diungkap oleh sejumlah tokoh besar di negara ini, termasuk Presiden SBY, Wapres Boediono, Jusuf Kalla, dan banyak lainnya.

Di Aceh, terutama bagi para pengikut setianya, tentu tak akan pernah lupa dengan petuah-petuah sang Wali. Yang paling terakhir adalah pesan untuk menjaga dan menumbuhkan perdamaian di Aceh. Sebuah pesan yang tentunya juga menjadi harapan dari semua rakyat Aceh, Indonesia dan dunia internasional.

Namun, sebelum pesan tersebut diutarakan, ternyata tak banyak yang tahu bahwa Tgk. Hasan Tiro juga punya satu pesan (amanah) lain yang tak kalah pentingnya, untuk kesejahteraan masyarakat Aceh, Indonesia dan juga dunia Internasional. "Peuseulamat uteun Aceh, sabab uteuen njan nakeuh salah saboh pusaka keuneubah endatu njang akan tapulang keu aneuk tjutjo geutanjoe di masa ukeu (selamatkan hutan Aceh, karena hutan itu merupakan salah satu pusaka nenek moyang yang akan kita tinggalkan untuk anak cucu kelak)." (lihat box; Amanah Wali Nanggroe)

Surat amanah yang telah berusia satu tahun tersebut, terlihat secara kebetulan saat Tabangun Aceh menyambangi salah satu ruang kerja tim Gubernur Aceh, yang berada persis di sebelah ruang kerja Gubernur Irwandi Yusuf. Saat itu, di ruangan tersebut terlihat beberapa anggota tim Aceh Green, diantaranya M Rizal Fahlevi dan Wibisono.

Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf mengakui validitas surat tersebut. Menurut Irwandi, surat amanah itu diserahkan oleh Tgk. Hasan Tiro melalui Kepada Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL), Fauzan Azima yang kemudian diteruskan kepada sejumlah pihak, termasuk Jubir Partai Aceh, Tgk Adnan Beuransyah, dan Sekretarian Aceh Green.

"Jadi jangan salah paham, moratorium logging (jeda tebang hutan) yang saya berlakukan itu juga sebagai bagian dari menjaga amanah Wali." -- IRWANDI YUSUF -- Gubernur Aceh

Amanah Wali Nanggroe :: Aceh Irwandi menuturkan, progam "Aceh Green" yang mengusung misi pembangunan berbasis penyelamatan lingkungan yang digagasnya, merupakan bagian dari amanah sang Wali. "Amanah Wali untuk menjaga hutan dan kelestarian alam ini juga amanah Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam. Banyak ayat Al Quraan dan hadits yang menyuruh kita untuk menyelamatkan lingkungan hidup," ujar Irwandi kepada Tabangun Aceh, di ruang kerjanya, Senin (07/06/2010).

Karena itu, Irwandi sangat mengharapkan kepada seluruh rakyat Aceh untuk benar-benar menjaga hutan dan lingkungan hidup, dari tindakan penebangan liar (illegal logging). "Jadi jangan salah paham, moratorium logging (jeda tebang hutan) yang saya berlakukan itu juga sebagai bagian dari menjaga amanah Wali." demikian Gubernur Irwandi Yusuf.

Pertemuan paling berkesan
Amanah sangat penting itu dititipkan Tgk. Hasan Tiro kepada rakyat Aceh, saat menerima kedatangan mantan Panglima GAM Wilayah Linge, Fauzan Azima yang kini menjabat sebagai Ketua Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL), di kediamannya, Stockholm, Swedia, 15 Juni 2009 lalu.

"Saat itu saya datang bersama Pak Mike Griffiths (salah seorang pengurus BPKEL). Sedangkan Wali didampingi oleh Meuntroe Zaini Abdullah, Ustadz Muzakir Abdul Hamid, dan Syarif Usman." ungkap Fauzan kepada Tabangun Aceh, Senin (07/06/2010).

Menurut Fauzan, dari beberapa kali pertemuan dirinya dengan sang Wali, pertemuan pada tanggal 15 Juni itu memberikan kesan sangat dalam baginya. "Beliau sangat fit, dan berbicara panjang lebar tentang pentingnya penyelamatan hutan dan pembangunan Aceh. Wali menunjukkan peta Aceh, kawasan mana yang harus dilestarikan dan kawasan mana yang akan menjadi areal pertanian dan perkebunan." ungkap Fauzan.

Melihat antusiasnya Tgk. Hasan Tiro berbicara tentang penyelamatan hutan, dr. Zaini Abdullah, Ustadz Muzakkir, dan Syarif Usman pun, menyarankan kepada Tgk. Hasan Tiro untuk menulis secarik amanah bagi rakyat Aceh, mengenai arti penting menjaga hutan. "Mengenai pembangunan Aceh, Wali berpesan agar pembangunan Aceh ke depan harus berbasis pada konservasi dan penyelamatan hutan," ujar Fauzan. (Zu)

Sumber : Tabloid Tabangun Aceh - Edisi 05 Juni 2010